Langsung ke konten utama

Pengaruh Kebiasan Pola Makanan terhadap Gizi

Status gizi orang pada umumnya dan
remaja pada khususnya banyak dipengaruhi oleh faktor kebiasaan makan dan gangguan pola makan. Salah satu faktor determinan status gizi masyarakat adalah faktor kebiasaan makan ( food habit ) penduduk atau masyarakat setempat. kKebiasaan makan adalah suatu tingkah laku manusia atau sekelompok manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.  Sikap orang terhadap makanan dap[at bersipat positif ataupun bersipat negatif. Sikap negatif atau positif pada makanan bersumber pada nilai-nilai “ Affective” yang berasal dari lingkungan dimana manusia atau kelompok manusia itu tumbuh. Demikian pula halnya dengan kepercayaan terhadap makanan selalu berkaitan dengan kualitas baik atau buruk, menarik atau tidak menarik. Dan pemilihan adalah proses untuk memilih makanan sesuai dengan sikap dan kepercayaanya. Program perbaikan gizi jangka panjang ditujukan pada peningkatan kesadaran gizi yang tinggi dalam masyarakat.
Makanan modern yang merupakan produk dari berbagai olahan makanan, sepereti hot dog, burger, pizza, fried chicken, ice cream dari berbagai merek dagang sangat gencar diiklankan melalui media massa, baik media cetak maupun media elektronik dan mudah didapat serta pengaruhnya berdampak sampai ke pelosok desa. Golongan remaja pada umumnya baik di kota besar maupu yang ada di kota kabupaten merupakan sasaran strategis para pengusah makanan olahan. Makanan modern memiliki daya pikat tersendiri karena lebih praktis, cepat dalam penyajian ( instan) dan mengandung gensi bagi sebagian golongan masyarakat. Di sisi lain, makanan moderen mengandung zat lemak, protein, hidrat arang dan garam yang relatip tinggi dan jika sering dikomsumsi secara berkesinambungan dan berkelebihan dapat mengakibatkan masalah gizi lebih . Gangguan Pola Makan pada Remaja Ketidak puasan terhadap bentuk tubuh dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pola makan, hal ini sering dialami oleh remaja yang ingin selalu tampil langsing, dan juga di antara kita yang sudah berkeliarga mungkin ingin selalu keliatan langsing.
“ada dua bentuk utama gangguan pola makan yang sering ditemukan pada remaja yaitu Anorerxia Nervosa dan Bulimia Nervosa dan terjadi 1 diantara 100 -200 remaja putrid”.
1. Anoreksia Nervosa
Anoreksia nervosa yaitu anoreksia yang disebabkan terganggunya pusat nafsu makan dalam hipotalamus memyebabkan penderita menjadi kurus kering. Gejala utama penyakit ini adalah usaha yang terlalu keras untuk menurungkan berat badan. Mereka sengaja membiarkan diri kelaparan. Walaupun paling sering dialamai oleh para wanita , terutama yang berusia muda, penyakit ini juga dapat ditemukan pada peria dari berbagai usia. Menurut Irianto (2007) mengemukakan bahwa ada beberapa geja Anoreksia Nervosa diantaranya:

  1. Menggolong-golongkan makanan yang baik dan yang jelek bagi tubuhnya, 
  2. menghindari pertemuan yangmenyediakan makanan, 
  3. Pikiran selalu menuju pada makanan, kalori dan berat badan,
  4. Berat badan menurun drastic,
  5. Berlatih keras, tidak mengenal lelah,
  6. Takut genuk,denyut nadi lambat dan .      lemah, sensitif terhadap suhu dingin,
  7. Gugup saat makan , mudah menangis.


2. Bulimia Nervosa
Seperti halnya anorexia bulimia juga sering diderita remaja putrid hingga dewasa, biasa berasal dari orang tua yang overweight atau obese. Bulimia Nervosa adalah perilaku seseorang yang berhubungan dengan makanan. Adapun tanda-tanda Bulimia Nervosa ditandai dengan cirri-ciri sebagai berikut:
a. Munculnya perasaan tidak mampu mengontrol perilaku makan selama makan dengan lahap dan bnyak.
b. Memu tahkan kembali makanannya menggunakan obat-obatan diretikum, dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dilakukan 20 kali/ hari dan kadang lebih.
Bulimia Nervosa juga ditandai dengan gejalalain yaitu Takut terhadap kenaikan berat badan, segera pergi ke kamar mandi setelah makan, depresi, dan sangat keritis terhadap ukuran dan bentuk tubuh.
Kejadian ganggun pola makan pada remaja yaitu anoreksia dan bulimia ini dapat diobati dengan bantuan dokter, ahli diet atau psikiater. Pengobatan dipokuskan pada pendekatan ntuk menolong diri sendiri ( self help approaches ) dan pengobatan psikologis yaitu khusus terapi perilaku kognitif, yang bertujuan untuk memberikan pengertian yang lebih baik mengenai kondisi serta cara mengubah perilaku mereka. Saat perilaku tersebut terpecahkan, psikoterapi perorangan atau kelompok serta konsultasi dengan kelompok pendukung orang-orang penderita gangguan pola makan dapat memberi mamfaat. Terapi alternative data dilakukan seperti olahraga pada masa awal masa remaja dapat member mamfaat dalam mencegah kelainan pola makan tersebut di atas bila dilakukan secara tidak berlebihan, dan mengkomsusi makanan sesuai prinsip 3 J ( Jenis, Jumlah, dan Jadwal). Jika gangguan pola makan yaitu anoreksia nervosa dan bulimia nervosa ini dibiarkan berlarut-larut menimpa pada remaja, maka akan terjadi ketidakseimbangan asupan zat gizi yang akan berdampak negative pada remaja itu sendiri, dan penentuan status gii dapat kita gunakan rumus Broca atau Indeks massa Tubuh sebagaimana yang diuraikan sebelumnya. Dampak yang akan ditimbulkan jika terjadi ketidakseimbangan asupan zat gizi pada remaja akan terhambat proses pertumbuhan dan perkembangan (growth spurt) dan pada remaja putri masih mempunyai dampak lain, karena remaja putri sebagai generasi muda juga akan melahirkan calon generasi muda. Untuk dapat melahirkan generasi muda yang diharapkan maka diperlukan calon ibu yang sehat untuk dapat melahirkan generasi yang sehat pula.

Sumber bisa klik disini

Komentar

  1. Terimakasih sangat bermanfaat sekali

    BalasHapus
  2. bagus. singkatnya pengidap anoreksia itu menahan atau menolak makanan untuk masuk ketubuhnya, sedangkan pengidap bulimia, dia makan namun selang beberapa menit dia memuntahkan kembali makanannya. CMIIW. oh,ya, ada banyak typo yang menurut saya agak mengganggu,nanti perbaiki lagi tulisannya,ya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

LGBT, Faktor Penyebab Dan Cara Mengatasinya

Akhir-Akhir ini, di Indonesia marak pembahasan mengenai LGBT. Apasih LGBT itu? LGBT merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender.  Lesbian ialah suatu orientasi seks yang mana perempuan menyukai sesama jenis perempuan. Lalu, gay adalah sebutan untuk seorang laki-laki yang menyukai sesama laki-laki. Sementara biseksual ialah sebutan untuk seseorang yang dapat tertarik dengan laki-laki maupun perempuan. Lalu transgender ialah seseorang yang memiliki penampilan atau perilaku berkebalikan dengan jenis kelaminnya. Dalam kasus ini transgender tidak menginginkan adanya perubahan organ seksualnya. Seseorang yang menginginkan adanya perubahan organ intimnya disebut transeksual.  Menurut Menteri Kesehatan RI Nila Djuwita F Moeloek saat berkunjung ke Kota Padang, Sumatera Barat pada Februari 2016 lalu. "Dari sisi kesehatan, LGBT itu masalah kejiwaan. Beda dengan gangguan kejiwaan, kalau gangguan mereka yang tergabung di dalamnya tidak bisa berinteraksi". Fak...

Pengaruh Gizi terhadap Kecerdasan Anak

Setiap orangtua tentu mendambakan anak yang sehat, cerdas, kuat, dan berprestasi, menurut para pakar laju tumbuh kembang dan tingkat intelegensia seorang anak sebagian besar dipengaruhi oleh asupan gizi. Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia, diantaranya kualitas kecerdasan anak (Waluyo, 2010:2). Kecukupan dan keseimbangan gizi sangat diperlukan oleh setiap individu sejak dalam kandungan, bayi, anak-anak, remaja, hingga usia lanjut. Kebutuhan gizi yang baik ditentukan oleh pola makan atau jenis makanan yang dikonsusmsi seseorang, pada umumnya pola makan yang dijalankan seseorang adalah pola makan empat sehat lima sempurna yang kemudian berkembang dengan istilah kuarter nabati yang dijalankan oleh vegetarian.             Kecerdasan, keterampilan, dan perkembangan mental anak tidak lepas dari pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak. Agar otak anak berkembang optimal, tentu saja harus memenuhi aneka zat gizi yang diperlukan, dalam a...