Setiap orangtua tentu mendambakan anak yang sehat, cerdas, kuat, dan berprestasi, menurut para pakar laju tumbuh kembang dan tingkat intelegensia seorang anak sebagian besar dipengaruhi oleh asupan gizi. Gizi merupakan salah satu penentu kualitas sumber daya manusia, diantaranya kualitas kecerdasan anak (Waluyo, 2010:2). Kecukupan dan keseimbangan gizi sangat diperlukan oleh setiap individu sejak dalam kandungan, bayi, anak-anak, remaja, hingga usia lanjut. Kebutuhan gizi yang baik ditentukan oleh pola makan atau jenis makanan yang dikonsusmsi seseorang, pada umumnya pola makan yang dijalankan seseorang adalah pola makan empat sehat lima sempurna yang kemudian berkembang dengan istilah kuarter nabati yang dijalankan oleh vegetarian.
Kecerdasan, keterampilan, dan perkembangan mental anak tidak lepas dari pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak. Agar otak anak berkembang optimal, tentu saja harus memenuhi aneka zat gizi yang diperlukan, dalam arti harus mengonsusmi makanan yang bergizi lengkap dan seimbang terutama untuk perkembangan otaknya.
Kecukupan dan keseimbangan gizi sangat diperlukan oleh setiap individu sejak dalam kandungan, bayi, anak-anak, remaja, hingga usia lanjut. Kebutuhan gizi yang baik ditentukan oleh pola makan atau jenis makanan yang dikonsusmsi seseorang. Setiap orang memerlukan 5 kelompok zat gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral) dalam jumlah cukup, tidak berlebihan maupun kekurangan. Secara alami, komposisi zat gizi setiap jenis makanan memiliki keunggulan dan kelemahan tertentu, beberapa makanan mengandung karbohidrat tinggi tetapi kekurangan vitamin dan mineral. Sementara itu beberapa makanan lain kaya vitamin C tetapi miskin vitamin A (Wiboworini, 2007:16).
Konsumsi makanan sehari-hari yang kurang beragam dapat menimbulkan ketidakseimbangan antara masukan dan kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat dan produktif. Dengan mengonsusmi makanan sehari-hari yang beragam, kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh keunggulan susunan zat gizi jenis makanan lain sehingga diperoleh masukan zat gizi yang seimbang.
Untuk mencapai masukan zat gizi yang seimbang tidak mungkin dipenuhi oleh satu jenis makanan melainkan harus terdiri dari aneka ragam bahan makanan, kecuali pada bayi umur 0-4 bulan yang cukup mengonsumsi air susu ibu (ASI) saja. ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal yang penting dalam proses tumbuh kembang dirinya secara wajar dan sehat ( Wiboworini, 2007:16 ).
Makan makanan yang beragam sangat bermanfaat bagi kesehatan, Mengonsumsi beraneka jenis makanan setiap hari akan melengkapi kandungan zat gizi pada makanan tersebut. Secara umum, fungsi makanan bagi tubuh dapat dikelompokkan menjadi tiga atau dapat disebut dengan istilah triguna makanan, yaitu sumber zat tenaga terdapat pada karbohidrat protein dan lemak, sumber zat pembangun terdapat pada protein dan air, sedangkan sumber zat pengatur terdapat pada air dan mineral. Keanekaragaman makanan yang dikonsumsi sehari-hari minimal harus berasal dari triguna makanan tersebut, yaitu harus berasal dari satu jenis zat tenaga, satu jenis zat pembangun dan satu jenis zat pengatur.
Keadaan kesehatan gizi seseorang tergantung pada kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. Kualitas makanan menunjukkan ketersediannya zat gizi antara makanan yang satu dengan makanan yang lain yang diperlukan oleh tubuh, sedangkan kuantitas makanan menunjukkan jumlah zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Apabila susunan makanan memenuhi kebutuhan tubuh baik kualitas maupun kuantitasnya, akan menghasilkan keadaan gizi yang baik dan seimbang.
Gizi merupakan salah satu penentu kualitas kecerdasan anak, gizi yang cukup dan seimbang sangat berperan dalam pencapaian pertumbuhan badan yang optimal. Pertumbuhan badan yang optimal mencakup pertumbuhan otak anak dan otak sangat menentukan kecerdasan anak. Apabila gizi yang diberikan kurang maka akan berefek langsung maupun tidak langsung terhadap kesehatan anak. Kekuarangan gizi yang berefek langsung akan mengakibatkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan otak anak serta terganggunya fungsi sistem neuron dari susunan saraf pusat. Sedangkan kekurangan gizi yang berefek tidak langsung akan mengakibatkan anak tidak aktif, apatis, dan tidak mampu berkonsentrasi. Oleh karena itu, pada keadaan gizi kurang, perkembangan kognitif anak terhambat dan aktivitas tubuh menurun.
Orang tua berperan penting dalam pengawasan pola makan anak-anaknya. Makanan yang diberikan sebaiknya memenuhi kecukupan energi dan zat-zat gizi yang seimbang. Susunan hidangan diberikan sesuai dengan selera makan anak, porsi makan yang diberikan harus sesuai kemampuannya dan makanan yang diberikan harus terbebas dari kotoran.
Para ahli menyebutkan bahwa kelompok makanan yang berguna untuk pembentukan, pertumbuhan, dan pemeliharaan sel-sel tubuh terdapat pada makanan yang mengandung zat tenaga dan zat pengatur. Zat tenaga dapat diperoleh dari makanan yang mengandug karbohidrat dan banyak ditemukan di makroni, ubi kayu, mie, kentang, jagung, beras, gula, dan ubi jalar. Makanan yang mengandung protein banyak ditemukan di susu, keju, ikan, daging, telur, ayam, tahu, dan tempe. Protein memegang peranan utuk pertumbuhan optimal (Pamilu, 2009:39).
Kecerdasan anak sangat ditentukan oleh otaknya. Perkembangan dan kinerja otak anak ditentukan oleh kualitas dan kuantitas makanan yang diberikan. Untuk mencapai hal tersebut, maka berikanlah buah-buahan kepada anak karena pada umumnya semua buah kaya akan kalium, khususnya buah aprikot, avocad, jeruk, melon dan pisang. Kandungan kalium ini sangat dibutuhkan oleh otak sebagai penghasil energi. Selain kalium, bahan untuk pemasok energi pada otak adalah natrium yang terdapat hampir dalam setiap bahan makanan. Kurangnya kalium pada otak akan berakibat mengurangi aliran arus listrik di dalam otak dan mengurangi informasi yang diterima oleh otak sehingga berpengaruh terhadap belajar anak. Kurangnya kalium secara drastis akan menimbulkan beberapa resiko seperti mengantuk, pingsan, dan muntah.
Sumber bisa klik disini
Kecerdasan, keterampilan, dan perkembangan mental anak tidak lepas dari pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak. Agar otak anak berkembang optimal, tentu saja harus memenuhi aneka zat gizi yang diperlukan, dalam arti harus mengonsusmi makanan yang bergizi lengkap dan seimbang terutama untuk perkembangan otaknya.
Kecukupan dan keseimbangan gizi sangat diperlukan oleh setiap individu sejak dalam kandungan, bayi, anak-anak, remaja, hingga usia lanjut. Kebutuhan gizi yang baik ditentukan oleh pola makan atau jenis makanan yang dikonsusmsi seseorang. Setiap orang memerlukan 5 kelompok zat gizi (karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral) dalam jumlah cukup, tidak berlebihan maupun kekurangan. Secara alami, komposisi zat gizi setiap jenis makanan memiliki keunggulan dan kelemahan tertentu, beberapa makanan mengandung karbohidrat tinggi tetapi kekurangan vitamin dan mineral. Sementara itu beberapa makanan lain kaya vitamin C tetapi miskin vitamin A (Wiboworini, 2007:16).
Konsumsi makanan sehari-hari yang kurang beragam dapat menimbulkan ketidakseimbangan antara masukan dan kebutuhan zat gizi yang diperlukan untuk hidup sehat dan produktif. Dengan mengonsusmi makanan sehari-hari yang beragam, kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh keunggulan susunan zat gizi jenis makanan lain sehingga diperoleh masukan zat gizi yang seimbang.
Untuk mencapai masukan zat gizi yang seimbang tidak mungkin dipenuhi oleh satu jenis makanan melainkan harus terdiri dari aneka ragam bahan makanan, kecuali pada bayi umur 0-4 bulan yang cukup mengonsumsi air susu ibu (ASI) saja. ASI merupakan satu-satunya makanan tunggal yang penting dalam proses tumbuh kembang dirinya secara wajar dan sehat ( Wiboworini, 2007:16 ).
Makan makanan yang beragam sangat bermanfaat bagi kesehatan, Mengonsumsi beraneka jenis makanan setiap hari akan melengkapi kandungan zat gizi pada makanan tersebut. Secara umum, fungsi makanan bagi tubuh dapat dikelompokkan menjadi tiga atau dapat disebut dengan istilah triguna makanan, yaitu sumber zat tenaga terdapat pada karbohidrat protein dan lemak, sumber zat pembangun terdapat pada protein dan air, sedangkan sumber zat pengatur terdapat pada air dan mineral. Keanekaragaman makanan yang dikonsumsi sehari-hari minimal harus berasal dari triguna makanan tersebut, yaitu harus berasal dari satu jenis zat tenaga, satu jenis zat pembangun dan satu jenis zat pengatur.
Keadaan kesehatan gizi seseorang tergantung pada kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi. Kualitas makanan menunjukkan ketersediannya zat gizi antara makanan yang satu dengan makanan yang lain yang diperlukan oleh tubuh, sedangkan kuantitas makanan menunjukkan jumlah zat gizi yang diperlukan oleh tubuh. Apabila susunan makanan memenuhi kebutuhan tubuh baik kualitas maupun kuantitasnya, akan menghasilkan keadaan gizi yang baik dan seimbang.
Gizi merupakan salah satu penentu kualitas kecerdasan anak, gizi yang cukup dan seimbang sangat berperan dalam pencapaian pertumbuhan badan yang optimal. Pertumbuhan badan yang optimal mencakup pertumbuhan otak anak dan otak sangat menentukan kecerdasan anak. Apabila gizi yang diberikan kurang maka akan berefek langsung maupun tidak langsung terhadap kesehatan anak. Kekuarangan gizi yang berefek langsung akan mengakibatkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan otak anak serta terganggunya fungsi sistem neuron dari susunan saraf pusat. Sedangkan kekurangan gizi yang berefek tidak langsung akan mengakibatkan anak tidak aktif, apatis, dan tidak mampu berkonsentrasi. Oleh karena itu, pada keadaan gizi kurang, perkembangan kognitif anak terhambat dan aktivitas tubuh menurun.
Orang tua berperan penting dalam pengawasan pola makan anak-anaknya. Makanan yang diberikan sebaiknya memenuhi kecukupan energi dan zat-zat gizi yang seimbang. Susunan hidangan diberikan sesuai dengan selera makan anak, porsi makan yang diberikan harus sesuai kemampuannya dan makanan yang diberikan harus terbebas dari kotoran.
Para ahli menyebutkan bahwa kelompok makanan yang berguna untuk pembentukan, pertumbuhan, dan pemeliharaan sel-sel tubuh terdapat pada makanan yang mengandung zat tenaga dan zat pengatur. Zat tenaga dapat diperoleh dari makanan yang mengandug karbohidrat dan banyak ditemukan di makroni, ubi kayu, mie, kentang, jagung, beras, gula, dan ubi jalar. Makanan yang mengandung protein banyak ditemukan di susu, keju, ikan, daging, telur, ayam, tahu, dan tempe. Protein memegang peranan utuk pertumbuhan optimal (Pamilu, 2009:39).
Kecerdasan anak sangat ditentukan oleh otaknya. Perkembangan dan kinerja otak anak ditentukan oleh kualitas dan kuantitas makanan yang diberikan. Untuk mencapai hal tersebut, maka berikanlah buah-buahan kepada anak karena pada umumnya semua buah kaya akan kalium, khususnya buah aprikot, avocad, jeruk, melon dan pisang. Kandungan kalium ini sangat dibutuhkan oleh otak sebagai penghasil energi. Selain kalium, bahan untuk pemasok energi pada otak adalah natrium yang terdapat hampir dalam setiap bahan makanan. Kurangnya kalium pada otak akan berakibat mengurangi aliran arus listrik di dalam otak dan mengurangi informasi yang diterima oleh otak sehingga berpengaruh terhadap belajar anak. Kurangnya kalium secara drastis akan menimbulkan beberapa resiko seperti mengantuk, pingsan, dan muntah.
Sumber bisa klik disini
Thx ya
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusNice
BalasHapusGood
BalasHapusartikel yang menarik. tapi sayangnya di Indonesia, banyak yang mengolah makanan itu tidak benar atau bisa dibilang mengolah makanan yang gizinya sudah cukup berkurang. mungkin nanti bisa dibuat artikel cara mengolah suatu bahan makanan dengan benar agar gizi yang terkandung di dalamnya tidak berkurang dan itu bisa membantu meningkatkan kecerdasan seorang anak
BalasHapus